saya sering menjumpai teman-teman kuliahan yang ngebet banget pengin nikah. mulai dari yang katanya menunuaikan separoh agama atau sampai yang hanya sekadar menuruti hawa nafsu. atau bahkan mungkin yang menjadikan keduanya sebagai alasan.
nikah memang benar dalam islam sebagai suatu sunah rosul yang jika menjalankannya berarti telah menjalankan separoh perintah agama. namun dalam niklah sendiri ada beberapa hal yang harus dipenuhi secara konteks keislaman. mualai dari kemampuan baik secara eknomis, kepemimpinan, biologis yang kesemuanya bermuara pada satu kata yaitu menjadi imam.
imam layaknya dalam sebuah sholat adalah orang yang benar-benar telah mampu dan mempunyai kemampuan lebih daripada orang lainnya.
disini dalam konteks menikah maka seorang suami harus mampu menjadi imam bagi anak dan isterinya. seorang imam yang tidak hanya secara ekonomi melainkan juga jiwa kepemimpinan dalam rumah tangga yang nantinya mampu menghantarkan keluarga yang dibinanya pada sebuah mahlighai rumah tangga yang sakinah, mawahdah dan warahmah.
sungguh saya menyesalkan teman-teman saya yang terlalu ‘beranio’ untuk cepat-cepat menikah dengan berbagai alasan pembenaran. seharusnya mereka (laki-laki) tidak hanya memikirkan ‘malam’saja. melainkan siang juga. artinya janganlah menikah hanya dilandasi dengan rasa cinta ataupun nafsu belaka. tetapi mencoba menelisisk sisi-sisi lainnya. seperti halnya kemafhuman agama. siang hari jauh lebih terik sinar matahari yang berarti menggambarkan bahwasanya seorang suami harus beklerja keras dalam menafkahi rumah tanganya atauapun mendidik, melindungi keluarga sehingga mencapai satu tujuan yaitu surga.
24 Apr

