Month: Juli 2008
Menyelesaikan masalah dengan masalah
Kebijakan pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke elpiji, awalanya merupakan upaya pemerintah mencari solusi atas kenaikan haraga minyak mentah dunia. namun, apa daya konversi tersebut justeru menimbulkan masalah baru yaitu kelangkaan elpiji yang berujung pada kenaikan harga elpiji.
Mendengar ataupun melihat slogan “menyelesaikan masalah tanpa masalah” pastilah mata dan telinga kita tertuju pada sebuah nama yaitu pegadaian. Slogan tersbut merupakan ‘ruh’ bahwasanya kehadirannya mampu memberikan penyelesaian secara tuntas terhadap permasalah ekonomi tanpa menimbulkan masalah yang baru.
Hal ini tentu sangat berbeda dengan ulah para eksekutif, maupun legislatif kita dalam menelurkan sebuah kebijakan, dimana kebijakan yang dibuat tak jarang hanya menimbulkan masalah baru. Istilahnya, menyelesaikan maaslah dengan masalah.
Kesan inilah yang muncul tatkala pemerintah melakukan kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji. Pemerintah bisa dikatakan mebuat langkah ‘blunder’ dan cenderung tidak antisipatif. Pasalnya dengan adanya konversi berarti secara tidak langsung masyarakat dijadikan sebagai masyarakat konsumtif akan elpiji. Masyarakat yang dulunya mengkonsumsi minyak tanah, berbondong-bondong beralih ke elpiji .apalagi dengan berbagai iming-iming pemerintah mulai dari harga yang murah, irit dan sebagainya. Kontan permintaan akan elpiji pun naik.. padahal disisi lain elpiji yang berbahan dasar gas merupakan salah satu sumber daya alam yang jumlahnya terbatas. Ketimpangan antara permintaan dan penawaran (baca: ketersediaan elpiji) yang menyebabkan dan selalu menjadi masalah utama dalam ilmu ekonomi yaitu kelangkaan Baca entri selengkapnya »